Tulisan Terkini Blog Saya

  • 窓の後ろに私の愛 - 窓の後ろに私の愛、 上品で、彼女を決定するにはもし彼女が、私もある私の愛、私は本の中で保管彼女を読む文章では、そわそわエッジの詩私は月に彼女の顔を与えられた私の愛、 彼女 意味
  • Angkatan 2005 di Facebook. - Biographers yang nongkrong di Facebook, sekarang bisa gabung ama grup alumni SMA Negeri 1 Karawang Angk '05. O ya, kalo entar Biographers yang gabung di Fa...

Chairil Anwar

BERJUANG UNTUK PERUBAHAN


Chairil Anwar dilahirkan di Medan, 26 Juli 1922. Dia dibesarkan dalam keluarga yang cukup berantakan. Kedua orang tuanya bercerai pada waktu Chairil duduk di bangku SMA. Ayahnya menikah lagi dan Chairil turut bersama ibunya merantau ke Jakarta.
Semasa kecil di Medan, Chairil sangat dekat dengan neneknya. Dan keakraban tersebut memberi kesan yang mendalam pada diri Chairil. Dalam hidupnya yang jarang sekali berduka, salah satu duka terdalam yang dialami Chairil adalah sewaktu neneknya meninggal. Chairil melukiskan duka itu dalam sajaknya: “bukan kematian benar yang menusuk kalbu/ keridlaanmu menerima segala tiba. Tak kutahu setinggi itu atas debu/ dan duka maha tuan bertahta. Setelah nenek, ibu adalah wanita kedua yang paling Chairil puja. Dia bahkan terbiasa menyebutkan nama ayahnya, tulus, di hadapan sang ibu, sebagai tanda menyebelahi nasib si ibu. Di hadapan ibunya Chairil acap kali kehilangan sisinya yang liar. Beberapa puisinya juga menyatakan kecintaan besar dia kepada sang ibu. Sejak kecil, semangat chairil terkenal kedegilannya. Seorang teman dekatnya, Sjamsul Ridwan, pernah membuat suatu tulisan mengenai Chairil semasa kecil. Menurutnya, salah satu sifat Chairil pada masa kanak-kanak ialah pantang dikalahkan, dalam persaingan, maupun dalam memperoleh keinginan hatinya. Kedua hal itu menyebabkan jiwanya meluap-luap, menyala-nyala, boleh dikatakan tidak pernah diam. Rekannya, Jasin juga punya kenangan tentang hal ini. “kami pernah bermain bulu tangkis bersama, dan dia kalah. Tapi dia tak mengakui kekalahannya, dan mengajak bertanding terus. Akhirnya saya kalah. Semua itu karena kami bertanding di depan para gadis.” Wanita adalah dunia Chairi sesudah buku. Tercatat nama Ida, Sri Ayati, Gadis Rasyid, Mirat, dan rosmeini, sebagai gadis yang dikejar-kejar Chairil. Dan semua nama gadis itu bahkan masuk dalam puisi-puisi chairil. Namun, dengan gadis Karawanglah, Hapsah, Chairil menikah. Pernikahan itu tak berumur panjang. Disebabkan kesulitan ekonomi dan gaya hidup Chairil yang tak berubah, Hapsah meminta cerai. Dan Chairilpun menjadi duda ketika putri semata wayangnya baru berumur tujuh tahun. Tak lama setelah itu, pukul 15:15 WIB, 28 April 1949, Chairil meninggal dunia. Ada beberapa versi mengenai penyakit yang menyebabkan dia meninggal, tapi yang pasti, TBC kronis dan sipilislah penyebabnya. Umur Chairil memang pendek, 27 tahun, tapi kependekkan itu meninggalkan banyak hal bagi perkembangan kesusasteraan indonesia. Malah dia menjadi contoh terbaik, untuk sikap “yang tidak bersungguh-sungguh dalam menggeluti kesenian. Sikap inilah yang membuat anaknya, Evawani –sekarang berprofesi sebagai notaris di Bekasi, mesti meminta maaf saat mengenang kemaitan ayahnya, di tahun 1999. “saya minta maaf, karena kini saya hidup di dunia yang bertentangan dengan dunia ayah.” Sekelumit karya Chairil...


NISAN

(untuk nenekanda)

Bukan kematian benar menusuk kalbu

Keridlaanmu menerima segala tiba

Tak kutahu setinggi itu atas debu

Dan duka maha tuan bertahta

Oktober 1942


PENGHIDUPAN


Lautan maha dalam Mukul dentur selama
Nguji tenaga pematang kita

Mukul dentur selama
Hingga hancur remuk redam
Kurnia bahgia
Kecil setumpuk

Sia-sia dilindung, sia-sia dipupuk.
- desember 1942


DIPONEGORO


dimasa pembangunan ini

tuan hidup kembali

dan bara kagum menjadi api
di depan sekali tuan menanti

tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali

pedang di kanan, keris di kiri

berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU
Ini barisan tak bergenderang-berpalu

Kepercayaan tanda menyerbu.
Sekali berarti

Sudah itu mati

MAJU

Bagimu negeri

Menyediakan api.

Punah diatas menghamba

Binasa diatas ditinda
Sungguhpun dalam ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai
Maju.

Serbu.
Serang.

Terjang.

- Februari 1943



TAK SEPADAN


Aku kira:

Beginilah nanti jadinya

Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa ahasveros

Dikutuk disumpahi eros

Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka
Jadi baik juga kita padami

Unggunan api ini

Karena kau tidak ‘kan apa-apa

Aku terpanggang tinggal rangka

- Februari 1943



SIA-SIA


Penghabisan kali ini kau datang

Membawa kembang berkarang

Mawar merah dan melati putih
Darah dan suci

Kau tebarkan depanku

Serta pandang yang memastikan: untukmu

Lalu kita sama termangu

Saling bertanya: apakah ini?
Cinta? Kita berdua tak mengerti

Sehari kita bersama. Tak hampir-menghampiri

Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi.
- Februari 1943


AJAKAN


Ida

Menembus sudah caya

Udara tebal kabut

Kaca hitam lumut

Pecah pencar sekarang
Diluar legah lapang

Mari ria lagi
Tujuh belas tahun kembali

Bersepeda sama gandengan

Kita jalani ini jalan

Ria bahgia

Tak acuh apa-apa

Gembira-girang
Biar hujan datang

Kita mandi-basahkan diri

Tahu pasti sebentar kering lagi
- februari 1943


SENDIRI

Hidupnya tambah sepi, tambah hampa
Malam apa lagi

Ia memekik ngeri

Dicekik kesunyian kamarnya
Ia membenci. Dirinya dari segala
Yang minta perempuan untuk kawannya
Bahaya dari tiap sudut. Mendekati juga

Dalam ketakutan-menanti ia menyebut satu nama

Terkejut ia duduk. Siapa memanggil itu?

Ah! Lemah lesu ia tersedu: Ibu! Ibu!

- Februari 1943


Link Chairil Anwar:

0 Responses to "Chairil Anwar"

Post a Comment