tetangga
- 8:32 AM - 0 comments
Chairil Anwar
Chairil Anwar dilahirkan di Medan, 26 Juli 1922. Dia dibesarkan dalam keluarga yang cukup berantakan. Kedua orang tuanya bercerai pada waktu Chairil duduk di bangku SMA. Ayahnya menikah lagi dan Chairil turut bersama ibunya merantau ke Jakarta. Semasa kecil di Medan, Chairil sangat dekat dengan neneknya. Dan keakraban tersebut memberi kesan yang mendalam pada diri Chairil. Dalam hidupnya yang jarang sekali berduka, salah satu duka terdalam yang dialami Chairil adalah sewaktu neneknya meninggal. Chairil melukiskan duka itu dalam sajaknya: “bukan kematian benar yang menusuk kalbu/ keridlaanmu menerima segala tiba. Tak kutahu setinggi itu atas debu/ dan duka maha tuan bertahta. Setelah nenek, ibu adalah wanita kedua yang paling Chairil puja. Dia bahkan terbiasa menyebutkan nama ayahnya, tulus, di hadapan sang ibu, sebagai tanda menyebelahi nasib si ibu. Di hadapan ibunya Chairil acap kali kehilangan sisinya yang liar. Beberapa puisinya juga menyatakan kecintaan besar dia kepada sang ibu. Sejak kecil, semangat chairil terkenal kedegilannya. Seorang teman dekatnya, Sjamsul Ridwan, pernah membuat suatu tulisan mengenai Chairil semasa kecil. Menurutnya, salah satu sifat Chairil pada masa kanak-kanak ialah pantang dikalahkan, dalam persaingan, maupun dalam memperoleh keinginan hatinya. Kedua hal itu menyebabkan jiwanya meluap-luap, menyala-nyala, boleh dikatakan tidak pernah diam. Rekannya, Jasin juga punya kenangan tentang hal ini. “kami pernah bermain bulu tangkis bersama, dan dia kalah. Tapi dia tak mengakui kekalahannya, dan mengajak bertanding terus. Akhirnya saya kalah. Semua itu karena kami bertanding di depan para gadis.” Wanita adalah dunia Chairi sesudah buku. Tercatat nama Ida, Sri Ayati, Gadis Rasyid, Mirat, dan rosmeini, sebagai gadis yang dikejar-kejar Chairil. Dan semua nama gadis itu bahkan masuk dalam puisi-puisi chairil. Namun, dengan gadis Karawanglah, Hapsah, Chairil menikah. Pernikahan itu tak berumur panjang. Disebabkan kesulitan ekonomi dan gaya hidup Chairil yang tak berubah, Hapsah meminta cerai. Dan Chairilpun menjadi duda ketika putri semata wayangnya baru berumur tujuh tahun. Tak lama setelah itu, pukul 15:15 WIB, 28 April 1949, Chairil meninggal dunia. Ada beberapa versi mengenai penyakit yang menyebabkan dia meninggal, tapi yang pasti, TBC kronis dan sipilislah penyebabnya. Umur Chairil memang pendek, 27 tahun, tapi kependekkan itu meninggalkan banyak hal bagi perkembangan kesusasteraan indonesia. Malah dia menjadi contoh terbaik, untuk sikap “yang tidak bersungguh-sungguh dalam menggeluti kesenian. Sikap inilah yang membuat anaknya, Evawani –sekarang berprofesi sebagai notaris di Bekasi, mesti meminta maaf saat mengenang kemaitan ayahnya, di tahun 1999. “saya minta maaf, karena kini saya hidup di dunia yang bertentangan dengan dunia ayah.” Sekelumit karya Chairil...
NISAN
(untuk nenekanda)
Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
Dan duka maha tuan bertahta
Oktober 1942
PENGHIDUPAN
Lautan maha dalam Mukul dentur selama
Nguji tenaga pematang kita
Mukul dentur selama
Hingga hancur remuk redam
Kurnia bahgia
Kecil setumpuk
Sia-sia dilindung, sia-sia dipupuk.
- desember 1942
DIPONEGORO
dimasa pembangunan ini
tuan hidup kembali
dan bara kagum menjadi api
di depan sekali tuan menanti
tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali
pedang di kanan, keris di kiri
berselempang semangat yang tak bisa mati.
MAJU
Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.
Sekali berarti
Sudah itu mati
MAJU
Bagimu negeri
Menyediakan api.
Punah diatas menghamba
Binasa diatas ditinda
Sungguhpun dalam ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai
Maju.
Serbu.
Serang.
Terjang.
- Februari 1943
TAK SEPADAN
Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa ahasveros
Dikutuk disumpahi eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka
Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka
- Februari 1943
SIA-SIA
Penghabisan kali ini kau datang
Membawa kembang berkarang
Mawar merah dan melati putih
Darah dan suci
Kau tebarkan depanku
Serta pandang yang memastikan: untukmu
Lalu kita sama termangu
Saling bertanya: apakah ini?
Cinta? Kita berdua tak mengerti
Sehari kita bersama. Tak hampir-menghampiri
Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi.
- Februari 1943
AJAKAN
Ida
Menembus sudah caya
Udara tebal kabut
Kaca hitam lumut
Pecah pencar sekarang
Diluar legah lapang
Mari ria lagi
Tujuh belas tahun kembali
Bersepeda sama gandengan
Kita jalani ini jalan
Ria bahgia
Tak acuh apa-apa
Gembira-girang
Biar hujan datang
Kita mandi-basahkan diri
Tahu pasti sebentar kering lagi
- februari 1943
SENDIRI
Hidupnya tambah sepi, tambah hampa
Malam apa lagi
Ia memekik ngeri
Dicekik kesunyian kamarnya
Ia membenci. Dirinya dari segala
Yang minta perempuan untuk kawannya
Bahaya dari tiap sudut. Mendekati juga
Dalam ketakutan-menanti ia menyebut satu nama
Terkejut ia duduk. Siapa memanggil itu?
Ah! Lemah lesu ia tersedu: Ibu! Ibu!
- Februari 1943
Link Chairil Anwar:

0 Responses to "Chairil Anwar"
Post a Comment